Selasa, 23 Agustus 2011

Muhasabah

Dalam suatu Konfensi iblis, syaitan dan jin, dikatakan: “Kita tidak dapat melarang kaum muslim ke masjid”, “Kita tidak dapat melarang mereka membaca Al-Qur’an dan mencari kebenaran”, “Bahkan kita tidak dapat melarang mereka mendekatkan diri dengan Tuhan mereka Allah dan Pembawa risalahNya Muhammad”, “Pada saat mereka melakukan hubungan dengan Allah, maka kekuatan kita akan lumpuh.”

“Oleh sebab itu, biarkanlah mereka pergi ke Masjid; biarkan mereka tetap melakukan kesukaan mereka, TETAPI CURI WAKTU MEREKA, sehingga Mereka tidak lagi punya waktu untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah”.

“Inilah yang akan kita lakukan,” kata iblis. “Alihkan perhatian mereka dari usaha meningkatkan kedekatannya kepada Allah dan awasi terus kegiatannya sepanjang hari!”. “Bagaimana kami melakukannya?” tanya para hadirin yaitu iblis, syaitan, dan jin. Sibukkan mereka dengan hal-hal yang tidak penting dalam kehidupan mereka, dan ciptakan tipudaya untuk menyibukkan fikiran mereka,” Jawab sang iblis “Rayu mereka agar suka BELANJA, BELANJA DAN BELANJA SERTA BERHUTANG, BERHUTANG DAN BERHUTANG”.

“Bujuk para istri untuk bekerja di luar rumah sepanjang hari dan para suami bekerja 6 sampai 7 hari dalam seminggu, 10 - 12 jam seminggu, sehingga mereka merasa bahwa hidup ini sangat kosong, jangan biarkan mereka menghabiskan waktu bersama anak-anak mereka, jika keluarga mereka mulai tidak harmonis, maka mereka akan merasa bahwa rumah bukanlah tempat mereka melepaskan lelah sepulang dari bekerja, Dorong terus cara berfikir seperti itu sehingga mereka tidak merasa ada ketenangan di rumah, Pikat mereka untuk membunyikan radio atau kaset selama mereka berkendaraan”. “Dorong mereka untuk menyetel TV, VCD, CD dan PC di rumah, Sepanjang hari. Bunyikan musik terus menerus di semua restoran maupun toko2
di dunia ini.”

“Hal ini akan mempengaruhi fikiran mereka dan merusak hubungan mereka dengan Allah dan RasulNya”

“Penuhi meja-meja rumah mereka dengan majalah-majalah dan tabloid”. “Cekoki mereka dengan berbagai berita dan gosip selama 24 jam sehari”.”Serang mereka dengan berbagai iklan-iklan di jalanan”. “Banjiri kotak surat mereka dengan informasi tak berguna, katalog-katalog, undian-undian, tawaran-tawaran dari berbagai macam iklan.

“Muat gambaran wanita yang cantik itu adalah yang langsing dan berkulit mulus di majalah dan TV, untuk menggiring para suami berfikir bahwa PENAMPILAN itu menjadi unsur terpenting, sehingga membuat para suami tidak tertarik lagi pada istri-istri mereka”

“Buatlah para istri menjadi sangat letih pada malam hari, buatlah mereka sering sakit kepala”.

“Jika para istri tidak memberikan cinta yang diinginkan sang suami, maka akan mulai mencari di luaran”. “Hal inilah yang akan mempercepat retaknya sebuah keluarga”

“Terbitkan buku-buku cerita untuk mengalihkan kesempatan mereka untuk mengajarkan anak-anak mereka akan makna shalat.”

“Sibukkan mereka sehingga tidak lagi punya waktu untuk mengkaji bagaimana Allah menciptakan alam semesta. Arahkan mereka ke tempat-tempat hiburan, fitness, pertandingan-pertandingan, konser musik dan bioskop.”

“Buatlah mereka menjadi SIBUK, SIBUK DAN SIBUK.” “Perhatikan, jika mereka jumpa dengan orang shaleh, bisikkan gosip-gosip dan percakapan tidak berarti, sehingga percakapan mereka tidak berdampak apa-apa.

“Isi kehidupan mereka dengan keindahan-keindahan semu yang akan membuat mereka tidak punya waktu untuk mengkaji kebesaran Allah, dan dengan segera mereka akan merasa bahwa keberhasilan, kebaikan/kesehatan keluarga adalah merupakan hasil usahanya yang kuat (bukan atas izin Allah).”

“PASTI BERHASIL, PASTI BERHASIL, RENCANA YANG BAGUS.” Iblis, syaitan dan jin kemudian pergi dengan penuh semangat melakukan tugas MEMBUAT MUSLIMS MENJADI LEBIH SIBUK, LEBIH KALANG KABUT, DAN SENANG HURA-HURA, dan hanya menyisakan sedikit saja waktu buat Allah sang Pencipta.”

“Tidak lagi punya waktu untuk bersilaturahmi dan saling mengingatkan akan Allah dan RasulNya”. Sekarang pertanyaan saya adalah, “APAKAH RENCANA IBLIS INI AKAN BERHASIL???”

“ANDALAH YANG MENENTUKAN..!!!”

sumber : www.myquran.com
Read More ..

Selasa, 07 Juni 2011

Jangan permainkan ta'aruf !!!


HANYA MAU MENGINGATKAN

Ukhti, aku tertarik ta’aruf dengan anti.” Itulah kalimat yang sering diadukan oleh para akhwat (wanita) yang penulis kenal. Dalam satu minggu, bisa ada dua tawaran ta’aruf dari ikhwan (pria) dunia maya. Berdasarkan curhat para akhwat (wanita) , rata-rata si ikhwan tertarik pada akhwat melalui penilaian komentar akhwat



Banyaknya jejaring sosial di dunia maya, seperti Facebook, Twitter, Yahoo Messenger, dan lain-lain, menjadikan akhwat dan ikhwan mudah berinteraksi tanpa batas. Begitu lembut dan halusnya jebakan iblis di dunia maya, tanpa disadari mudah menggelincirkan diri manusia ke jurang kebinasaan.


Kasus ta’aruf ini sangat memprihatinkan sebenarnya. Seorang bergelar ikhwan (pria) memajang profil islami, tetapi serampangan memaknai ta’aruf. Melihat akhwat (wanita) yang dinilai bagus kualitas agamanya, langsung berani mengungkapkan kata “ta’aruf” tanpa perantara.


Jangan memaknai kata “ta’aruf” secara sempit, pelajari dulu serangkaian tatacara ta’aruf atau kaidah-kaidah yang dibenarkan oleh Islam. Jika menggunakan kata ta’aruf sebagai dalih untuk bebas berinteraksi dengan lawan jenis, lantas apa bedanya yang telah mendapat hidayah dengan yang masih jahiliyah? Islam telah memberi konsep yang jelas dalam tatacara ta’aruf.


Suatu ketika, ada sebuah cerita di salah satu situs jejaring sosial, pasangan akhwat-ikhwan mengatakan sedang ta’aruf, dan untuk menjaga perasaan masing-masing, digantilah status mereka berdua sebagai pasutri. Sungguh memiriskan hati. Pernah juga ada kisah ikhwan-akhwat yang saling mengumbar kegenitan di dunia maya. Berikut ini petikan obrolannya.


“Assalamu’alaikum, Ukhti,” sapa si ikhwan.

“Wa’alaikumsalam, Akhi,” balas si akhwat.

“Subhanallah, Ukhti, ana kagum dengan kepribadian anti, seperti Sumayyah, seperti Khaulah binti Azwar, bla bla bla bla…,” puji ikhwan tersebut.

Apakah berakhir sampai di sini? Oh no…. Rupanya, yang ditemui ini juga akhwat genit, berlanjutlah obrolan tersebut, si ikhwan bertanya apakah si akhwat sudah punya calon, lantas si akhwat menjawab, “Alangkah beruntungnya akhwat yang mendapatkan Akhi kelak.”

Si ikhwan pun tidak mau kalah, balas memuji akhwat, “Subhanallah, sangat beruntung ikhwan yang mendapatkan bidadari dunia seperti anti.”

Owh, mengerikan, ber-lebay-lebay di dunia maya, syaithan tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Lalu tertancaplah rasa, bermekaran di dada dua sejoli tersebut, yang belum ada ikatan pernikahan.

Dengan bangganya si ikhwan menaburkan janji-janji manis, akan mengajak akhwat hidup di planet Mars, mengunjungi benua-benua di dunia, hingga larutlah keduanya dalam janji-janji lebay.


Ikhwan-nya membabi buta, akhwat-nya terpedaya. Na’udzubillah. Bukan begitu ta’aruf yang Rasulullah ajarkan.




Wahai Ikhwan, Jangan Permainkan Ta’aruf!

Muslimah itu mutiara, tidak sembarang orang boleh menyentuhnya, tidak sembarang orang boleh memandangnya. Jika kalian punya keinginan untuk menikahinya, carilah cara yang baik, yang dibenarkan Islam. Cari tahu informasi tentang akhwat melalui pihak ketiga yang bisa dipercaya. Jika maksud ta’aruf-mu untuk menggenapkan separuh agamamu, silakan saja, tetapi prosesnya jangan keluar dari koridor Islam.

Wahai ikhwan, relakah jika adikmu dijadikan ajang coba-coba ta’aruf oleh orang lain? Tentu engkau keberatan, bukan? Jagalah izzah muslimah, mereka adalah saudari seimanmu. Pasanglah tabir pembatas dalam interaksi dengannya. Pahamilah, hati wanita itu lembut dan mudah tersentuh, akan timbul guncangan batin jika jeratan yang kalian tabur tersebut hanya sekadar main-main.

Jagalah hati mereka, jangan banyak memberi harapan atau menabur simpati yang dapat melunturkan keimanan mereka. Mereka adalah wanita-wanita pemalu yang ingin meneladani wanita mulia di awal-awal Islam. Biarkan iman mereka bertambah dalam balutan rasa nyaman dan aman dari gangguan JIL alias Jaringan Ikhwan Lebay.


Wahai ikhwan, ini sekadar nasihat, jangan mudah percaya dengan apa yang dipresentasikan orang di dunia maya, karena foto dan kata-kata yang tidak kamu ketahui kejelasan karakter wanita, tidak dapat dijadikan tolok ukur ke-shalih-an mereka, hendaklah mengutus orang yang amanah, yang membantumu mencari data dan informasinya.

Wahai ikhwan, luasnya ilmu yang kau miliki tidak menjadikan kau mulia jika tidak kau imbangi dengan menjaga adab pergaulan dengan lawan jenis.

Duhai Akhwat, Jaga Hijab-mu!

Agar tidak runtuh kewibaanmu, jagalah hijab-mu! Jangan bangga karena banyaknya ikhwan yang menginginkan ta’aruf. Karena ta’aruf yang tidak berdasarkan aturan syar’i, sesungguhnya sama saja si ikhwan meredahkanmu. Jika ikhwan itu punya niat yang benar dan serius, tentu akan memakai cara yang Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam ajarkan, dan tidak langsung menembak kalian dengan caranya sendiri.

Duhai akhwat, terkadang, kita harus mengoreksi cara kita berinteraksi dengan mereka (ikhwan), apakah ada yang salah hingga membuat mereka tertarik dengan kita? Terlalu lunakkah sikap kita terhadap mereka?

Duhai akhwat, sadarilah, orang-orang yang engkau kenal di dunia maya (pun di dunia nyata) tidak semua memberikan informasi yang sebenarnya. Waspadalah! Karena kau adalah sebaik-baik wanita yang menggenggam amanah Ilahi. Jangan mudah terpedaya oleh rayuan orang di dunia maya.

Duhai akhwat, berhiaslah dengan akhlak islami, jangan mengumbar kegenitan pada ikhwan yang bukan mahram, biarkan apa yang ada di dirimu menjadi simpanan manis untuk suamimu kelak.

Duhai akhwat, ta’aruf yang sesungguhnya haruslah berdasarkan cara Islam, bukan dengan cara mengumbar rasa sebelum ada akad nikah. [Yulianna PS/voa-islam.com]

Sumber : voa-islam.com
Read More ..

Kamis, 05 Mei 2011

Dahsyatnya Ikhlas


Sore sepulang kantor Pak Tono berkata pada istrinya, “Bu, ada beban berat di pikiran Saya... Biaya kebutuhan hidup terus melambung tinggi, biaya sekolah anak-anak juga semakin mahal, rasa-rasanya sulit untuk mencukupi semua kebutuhan kita Bu.” Sang istri sejenak terdiam… dirasakannya ekonomi keluarga memang sesak menghimpit, sambil tersenyum sang istri kemudian berkata, “Sudah jangan sedih Pak, Kita kan bekerja dalam rangka menjemput rizki dari Allah, kalau kita niatkan kita bekerja ikhlas, semata-semata mencari ridha Allah, insya Allah tak ada yang perlu kita takutkan. Karena kita yakin akan pertolongan Allah Swt… Ibu percaya Bapak telah bersungguh-sungguh bekerja keras untuk keluarga, insya Allah semua ada jalan keluar…”

Pak Tono merenungkan kata-kata istrinya. Ikhlas? Bekerja semata-mata mencari ridha Allah? Astaghfirullah… Pak Tono tersadar, niat ikhlas ini tidak ia miliki… Selama ini motifnya bekerja adalah mencari uang sebanyak-banyaknya, hanya demi kesejahteraan keluarga. Karena itu hatinya kini begitu resah, penuh ketakutan… Padahal jika ia ikhlas, bekerja semata-mata karena Allah, mencari ridha-Nya, tentu hatinya akan tenang, dan ia akan yakin bahwa Allah akan selalu menolong hamba-nya yang ikhlas… Tak terasa air matanya pun menitik…

Ikhlas adalah salah satu buah dari tauhid yang sempurna kepada Allah Yang Mahasuci lagi Mahatinggi. Demikian Menurut Yusuf Al-Qaradhawi dalam bukunya Al-Niyyah wa Al Ikhlas.

"Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan" (QS. Al-fatihah [1] : 5).

Setiap harinya kita mengucapkan kalimat ini dalam Shalat kita sebanyak 17 kali! Dan ini tentu bukan cuma sekedar ucapan tanpa maksud. Tapi jelas, bahwa Allah menginginkan kita sebagai hamba Allah yang sebenar-benarnya.Hamba yang ikhlas, yang melakukan semua amal perbuatannya hanya karena Allah Swt… Dan bukankah dalam shalat kita juga mengucapkan “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, matiku, semuanya hanya untuk Allah?”

Tapi kenyataannya, sangat sulit merealisasikan ikhlas dalam setiap perbuatan kita. Niat segala perbuatan kita ternyata bukan lagi untuk mencari ridha Allah. Tapi niat kita adalah untuk mencapai kepentingan pribadi, dan kepentingan duniawi. Niat Ikhlas ini seringpula disusupi oleh sifat ujub dan riya’. Perbuatan kita lakukan untuk membanggakan diri, dan ingin dipuji oleh manusia. Ya, mencari ridha manusia.

Allah Swt berfirman, “Di antara kamu ada orang yang menghendaki dunia, dan di antara kamu ada orang yang menghendaki akhirat.” (QS. Ali-Imran [3]: 152)

“Katakanlah, Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orangyang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. “(QS. Al-Kahfi [18] : 103-104)

Dalam sebuah Hadis dikisahkan bahwa Rasulullah SAW ditanya tentang orang yang berperang dengan tujuan untuk mencari pahala Allah dan pujian dari manusia. Lalu Rasulullah SAW menjawab tiga kali, ”Tidak ada apa-apa baginya," dan beliau melanjutkan, "Sesungguhnya Allah tidak menerima sesuatu amal kecuali yang dilakukan denagn ikhlas dengan mencari ridha-Nya."

Bila kita cermati lagi, maka terjawablah mengapa negara kita tercinta, negara yang katanya memilki jumlah umat muslim terbesar di dunia, tapi anehnya merupakan negara dengan tingkat korupsi kolusi dan manipulasi yang sangat tinggi. Korupsi dan segala kebobrokan terjadi tidak lain karena para penguasa di negara kita tidak ikhlas! Motif mereka, niat mereka menjadi penguasa bukan mencari ridha Allah. Kepentingan pribadi dan duniawi lah yang mereka kejar. Mereka haus kekuasaan, haus harta, jabatan, serta haus fasilitas… Kalau niat mereka menjadi penguasa untuk mencari ridha Allah niscaya tidak akan pernah ada korupsi, tidak akan pernah ada kolusi, dan juga manipulasi. Tidak akan pernah mereka memakan, menyelewengkan, dan menghambur-hamburkan uang rakyat!

Lihatlah Rasulullah SAW, teladan kita. Rasulullah SAW pernah ditawari kerajaan, kehormatan, harta, dan semua kemewahan dunia agar beliau meninggalkan dakwah, tapi semua tawaran itu ditolak, dan dijawab tegas oleh Rasulullah SAW, “Sekalipun mereka meletakkan matahari di sebelah kananku, dan bulan di sebelah kiriku agar aku meninggalkan dakwahku ini, aku tidak akan meninggalkannya, sampai Allah memenangkan agama ini atau aku binasa membelanya." Subhanallah…!

Saudaraku… Mari kita luruskan niat kita, niatkan semua perbuatan kita hanyalah ikhlas mencari ridha Allah.. Mari kita berjuang melawan hawa nafsu. Ayo, kita pancarkan energi ikhlas dari diri kita. Awalnya mungkin akan sulit, akan penuh penderitaan, kita akan kepayahan.. Tapi percayalah dengan pertolongan Allah, semua yang sulit menjadi mudah, derita dan kepayahan akan sirna, berganti dengan kebahagiaan hakiki, kebahagiaan karena meraih ridha Allah SWT.

Wallahua’lam bish-shawaab.

Bangkok, 28 April 2011.

Daftar Pustaka

* Al-Qaradhawi, Yusuf. Al-Niyyah wa Al- Ikhlas. Diterjemahkan oleh Idrus Hasan dengan judul : Energi Ikhlas. Bandung: Mizan 2011.

Read More ..

Kamis, 28 April 2011

Katakan 'Sayang'


Ucapan kadang tak ubahnya seperti pedang. Bisa menjadi pelindung ketika musuh menyerang. Tapi, karena terlalu kaku, ragu, atau bahkan takut memainkannya, pedang bisa melukai si pemakai.


Seperti itulah ungkapan yang cocok buat memaknai sebuah ucapan. Terlebih ketika makna itu teramat khusus. Tak sembarang orang bisa mendapatkannya. Sebagaimana, tak sembarang orang mampu menghadiahkannya. Itulah ucapan: sayang!

Sudah menjadi kewajaran buat suami isteri memberikan ungkapan-ungkapan khusus untuk memaknai cinta mereka. Ada yang dalam bentuk hadiah seperti rangkaian bunga, busana istimewa, cincin atau kalung, handphone, dan lain-lain. Ada juga yang cuma dalam bentuk ekspresi wajah: senyum, tatapan, dan kemanjaan.

Dari sekian ungkapan khusus itu, ada yang teramat mudah, murah, dan bisa kapan pun diberikan. Bahkan, bisa menjadi panggilan seumur hidup. ‘Sayang’, itulah sapaan sederhana tapi punya pengaruh yang begitu dalam.

Namun, tidak semua orang mampu mengungkapkannya dengan penuh tulus tanpa beban. Seolah, ada halangan yang begitu menghambat. Susah, tak tahu arah.

Hal itulah yang kini dirasakan Pak Jejen. Bapak satu anak ini bukan tak cinta pada isterinya. Justru, ia begitu sayang. Tapi, entah kenapa, ungkapan-ungkapan cinta seperti itu terasa begitu berat. Nggak kebayang kalau ia dengan ringan mengatakan ‘sayang’ pada isterinya yang tersayang.

Jangankan bilang ‘sayang’, menatap lekat-lekat wajah isteri saja Pak Jejen masih sungkan. Kalau ingat itu, Pak Jejen kebayang hari-hari awal pernikahannya. Seribu satu rasa campur aduk jadi satu: bingung, gugup, takut salah, nggak pede, dan lain-lain. Ujung-ujungnya, Pak Jejen seolah seperti tamu yang sedang bermalan di rumah tuan rumah. Begitulah warna rasa itu berlangsung hingga beberapa bulan.

Pernah ia mencoba bilang ‘sayang’. Pak Jejen menyiapkan diri dengan segala kekuatan yang ia miliki. Ia tatap wajah isterinya penuh lekat. Dan isterinya pun membalas. Seolah ada yang lain ditangkap isterinya. “Ada apa, Bang?” tanya isterinya terheran. Spontan, pertanyaan dan tatapan isterinya itu seperti melindas semua kekuatan yang sudah ia siapkan. “Hmm, anu, hmm…,” suara Pak Jejen terputus-putus. Dan, ia pun menggaruk-garuk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.

Kadang, Pak Jejen heran melihat kemampuan seorang temannya. Setiap kali ia berkunjung ke rumah sang teman, selalu saja terdengar suara dari temannya itu ke isterinya: “Yaang, sayang! Ada tamu!” Ah, begitu mudah. Begitu indah. Saat itulah pikiran Pak Jejen menerawang ke rumah. Andai saya bisa begitu.

Kalau ditanya apa yang salah, rasanya tak ada. Dengan sepenuh hati, ia sangat mencintai isterinya. Jangankan menyesal, mengimbangi kecantikan dan kebaikan isteri dan keluarganya saja ia sudah merasa kewalahan. Dari segi objek, sudah sepatutnya ungkapan ‘sayang’ ia sampaikan.

Tinggal dari segi subjek, yang tak lain diri Pak Jejen sendiri. Nah, dari sisi inilah Pak Jejen mengalami jalan buntu. Apa ia terlalu pemalu. Atau, kurang percaya diri. Kalau memang pemalu, berarti ada hubungannya dengan pola asuh masa lalu. Bisa di rumah, bisa juga di tempat belajar.

Di dua tempat itu, kemungkinan menjadi penyebab pemalu memang ada. Pak Jejen memang tinggal bersama orang tua dan kakak-kakaknya yang semuanya laki-laki. Otomatis, yang perempuan cuma ibu. Itu pun tempat bermanja, bukan bermain-main. Selama dua puluh tahun lebih, Jejen muda cuma bermain dan bercanda dengan laki-laki.

Begitu pun dengan tempat belajar. Cuma di sekolah dasar ia sempat sekelas dengan anak-anak perempuan. Setelah itu, suasana pesantren sama sekali menutup interaksi itu. Ia lebih senang menekuni pelajaran sekolah ketimbang membayang-bayangkan wajah perempuan. Tak pernah terpikir untuk melakukan ‘gerilya’. Pokoknya, ia harus menjadi pemuda pandai, saleh, dan terampil.

Bahkan, ia sempat heran kalau menemukan ada remaja laki-laki berkumpul-kumpul dengan anak-anak perempuan. Laki-laki model apa yang mainnya tak jauh dari suasana perempuan. “Ah, jangan-jangan sudah pada banci,” umpat Jejen muda suatu kali.

Nah dari hitung-hitungan latar belakang itulah, penyebab dirinya menjadi pemalu mulai kelihatan. Tidak tertutup kemungkinan, masih ada kesenjangan antara dunia lama Pak Jejen yang ‘bersih’ tanpa dunia wanita, dengan keadaan saat ini. Bayangkan, pria yang selama ini nyaris tak pernah membayang-bayangkan wajah wanita tiba-tiba hidup akrab serumah dengan seorang wanita. Terlebih, wanita itu merupakan sosok baru yang belum pernah ia kenal.

Sekali lagi, Pak Jejen sama sekali tak pernah menyesali masa lalunya itu. Justru, ia bangga dan bersyukur pada Allah. Karena ia tergolong hamba-hamba Allah yang mendapatkan perlindungan dari lingkungan buruk. Masalahnya memang bukan pada warna masa lalu itu, tapi lebih kepada proses transisi.

Ibarat seorang yang baru mendapat hadiah motor, ia mesti merubah kebiasaan dan kecenderungan masa lalu. Mungkin, sebelumnya tak pernah terpikir kalau ia jadi begitu dekat dengan motor: mengelap, mencuci, menservis, mengendarai, dan berwas-was kalau-kalau ada yang mencuri. Tapi, kenyataan sudah berbeda. Dan ia harus berubah. Kalau tidak, bernikmat-nikmat dengan motor tidak akan berlangsung lama. Bisa karena rusak, atau hilang dicolong orang. Lebih parah lagi, itu bisa tergolong sebagai orang yang kurang bersyukur.

“Astaghfirullah…,” suara Pak Jejen agak tertahan. Hidup berumah tangga memang tak ubahnya seperti persinggahan dari rumah satu ke rumah lain. Dan masing-masing rumah punya pola atur yang beda. Kita tidak akan kerasan di rumah persinggahan itu manakala ada hambatan rasa dalam proses adaptasi. Jasad ada di rumah baru, tapi batin di rumah lama. Masalahnya, rumah baru itu bukan ruangan kosong. Ada penghuni lain yang juga manusia. Dan seorang manusia mana pun, berhak mendapatkan perlakuan sebagai manusia. Apalagi sebagai tuan rumah.

Harapan Pak Jejen cuma satu: semoga ia tidak sedang menzhalimi isteri tercintanya. Dan semoga, pedang yang siap ia mainkan cocok dengan tenaga dan keterampilan bela diri yang ia miliki. (muhammadnuh@eramuslim.com)

Read More ..

Rabu, 22 September 2010

E-book: Riyadhus Shalihin (Taman orang-orang Saleh)


Judul : Riyadhus Shalihin (Taman orang-orang Saleh)
Karya : Imam Nawawy
Penulis : Abdullah
Publisher: Unknown
File : PDF dalam 2 File 1.64 MB dan 2.41 MB
Halaman : 388 berisi BAB 1 s/d 116 (Jilid 1) dan 743 berisi BAB 117 s/d 372 (Jilid 2)

Pengarang kitab ini adalah Imam Yahya bin Syaraf bin Murry bin Hassan bin Husain bin Muhammad bin Jum'ah bin Hizam, Abu Zakariya An Nawawy Al Dimsyqy. Lahir tahun 631 H di daerah Nawa, Damaskus. Dan wafat di sana tahun 676 H.


Di dalam kitab ini, ia mengumpulkan hadits-hadits yang menunjukan jalan kebahagiaan di akhirat. Demikian pula adab-adab yang bersifat lahir dan bathin, yang harus dimiliki oleh orang-orang yang mengadakan perjalanan menuju Alloh 'azzawajalla. Terhimpun dalam kitab ini banyak manfaat baik bagi orang awam, ulama dan para penuntut ilmu.

Riyadhus Shalihin Jilid 1

Riyadhus Shalihin Jilid 2

Read More ..
 

copyright | www.gppucepat.co.cc